Langsung ke konten utama

Unggulan

Menjadi Ibu Baru, Lelah Tapi Membahagiakan

Alhamdulillah, bisa menjadi istri dan ibu adalah salah satu kodrat seorang perempuan. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menjadi seorang ibu. Menjadi ibu baru, tentu mendatangkan banyak kejutan dalam hidupku. Baby blues, lelah, dan jenuh saat mengurus anak telah kurasakan. Belum lagi harus begadang dikala luka jahitan masih terasa perih, mendengar tangisan bayi yang memekakkan telinga, puting yang sakit dan payudara yang bengkak, serta rembesan ASI yang membuat bau amis di bajuku. Ditambah tak punya waktu untuk diri sendiri. Mau makan dan mandi tak tenang. Duniaku benar-benar berubah 180 derajat. Jujur, beberapa hari setelah lahiran, aku sempat merasa kesal dengan anakku. Sempat merasa tidak senang dengan kehadirannya. Merasa terbebani dalam mengurusnya. Kesal karena tidak bisa beristirahat karenanya. Namun, dibalik itu semua, ketika aku bisa memeluk anakku, merasakan genggaman tangannya, melihat senyumannya untuk pertama kali, mendengar dia mulai belajar berbicara, semua itu adalah rasa...

Pengalaman Melahirkan Caesar Karena Mata Minus dengan BPJS

 Assalamu'alaikum 😊

Aku mau berbagi pengalamanku melahirkan secara SC (Sectio Caesaria) atau caesar kepada para pembaca. Semoga tulisanku ini dapat menambah wawasan kita semua. Baca sampai selesai ya!

Alhamdulillah, anak pertamaku lahir ke dunia tanggal 20 Agustus 2022. Suatu hal yang benar-benar tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Senang, sakit, bingung, dan rasa syukur, semuanya jadi satu.


Masya Allah, foto USG anakku 😘

Aku melahirkan anakku secara caesar. Hal itu dikarenakan aku memiliki minus mata yang tinggi. Menjelang hari perkiraan lahir, aku baru mengatakan kepada dokter obgynku bahwa aku memiliki mata minus 6. Hal itu aku lakukan karena beberapa hari sebelumnya aku menonton video YouTube yang mengatakan bahwa ada resiko bagi yang mata berminus tinggi untuk melahirkan normal. Akhirnya dokter mengatakan bahwa memang ada resiko kebutaan bagi ibu bermata minus di atas 4 jika ingin melahirkan secara normal. Meskipun hal itu belum tentu terjadi.

Suami dan ibuku sebenarnya tak mempermasalahkan metode lahiran yang kupilih. Normal ataupun operasi, terserah lah. Yang terpenting aku dan anakku sehat dan selamat. Namun, dalam hatiku, aku ingin lahiran normal. Aku ingin lebih cepat pulih setelah melahirkan. Setidaknya itulah yang kudengar dari orang-orang. Kata mereka, pemulihan di lahiran normal lebih cepat daripada operasi.

Aku mengatakan bahwa aku tetap ingin persalinan normal. Maka dokter obgyn pun menyarankan agar aku cek kondisi mataku ke dokter mata. Jika kondisi mataku bagus, maka aku bisa melahirkan normal. 

Akupun akhirnya pergi ke klinik dokter mata bersama suamiku. Dokter mata mengatakan bahwa mataku sehat. Bahkan dia juga menyarankan padaku untuk tetap memilih persalinan normal. Apalagi aku tidak memiliki riwayat penyakit ataupun masalah dalam kehamilanku. Yaa, aku pun merasa rugi saja kalau harus operasi caesar hanya karena mata minus. Tapi dokter mata mengatakan padaku bahwa meskipun aku bisa persalinan normal, tapi tetap melahirkannya harus di rumah sakit. Untuk jaga-jaga bila ada terjadi hal yang tidak diinginkan. Selain itu, si dokter mata juga mengatakan padaku bahwa nanti bila melahirkan, aku harus benar-benar mendengarkan perkataan para penolong persalinanku. Bila mereka memintaku mengedan, maka aku mengedan. Bila diminta tahan mengedan, maka aku tahan. Hal itu untuk mengurangi tekanan yang bisa membahayakan mata. Aku senang sekali mendengar perkataan dokter mata tersebut. Besar harapanku agar dapat melahirkan secara normal.

Beberapa hari kemudian, aku kembali datang ke tempat praktek dokter obgyn. Setelah menjelaskan hasil cek dari dokter mata, dokter obgyn mengatakan kembali pendapatnya padaku. Mengenai "bila diminta mengedan, maka aku mengedan dan bila diminta menahan, aku tahan" itu agak sulit untuk dilakukan. Menurutnya, perasaan ingin mengedan saat melahirkan itu sulit dikendalikan. Sehingga walaupun ingin menahan, belum tentu bisa menahan. Jadi akhirnya dokter obgyn mengembalikan keputusan kepadaku. 

Aku ingin persalinan normal, tapi suamiku khawatir dengan resiko yang ada. Akhirnya kami mengambil keputusan persalinan caesar. Kamipun akhirnya menentukan tanggal operasi dengan dokter. Mengurus surat rujukan ke puskesmas dan menyiapkan seluruh keperluan yang diperlukan untuk dibawa ke rumah sakit.

Biaya persalinan yang aku keluarkan adalah 0 rupiah. Karena aku menggunakan BPJS. Operasinya pun dengan metode ERACS. Dimana dengan metode itu, pemulihannya lebih cepat daripada operasi Caesar biasa. Setelah operasi, dokter obgyn mengatakan bahwa aku sudah boleh makan dan minum tiga jam setelah operasi dan tak perlu menunggu kentut dulu. Aku juga diminta untuk tidur menghadap kanan atau kiri delapan jam kemudian. Menggerakkan tubuh akan membantu mempercepat pemulihan. Dengan catatan harus pelan dan hati-hati 😊.

Sehari setelah operasi, aku diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Akhirnya kujalani kehidupan sebagai ibu baru di rumah sekaligus merasakan proses pemulihan operasi. Rasanya sungguh nikmat sekali πŸ˜„. Seminggu kemudian, aku mulai bisa leluasa menggerakkan badanku. Alhamdulillah, aku bersyukur operasinya lancar. Anakku selamat, dan luka operasiku tidak bermasalah. 

Setelahnya, aku juga kontrol luka operasi tiap minggu. Kontrol kulakukan hingga lukaku benar-benar sembuh. Perban lukaku sudah benar-benar dilepas setelah 3 minggu. Jadi tidak masalah lagi jika terkena air. Biaya kontrol luka pun bisa dicover oleh BPJS. Asalkan ambil rujukan terlebih dahulu. 

Alhamdulillah sekarang aku benar-benar sudah pulih. Benar-benar bisa leluasa bergerak. ASI-ku alhamdulilah juga lancar. Jadi jangan sampai berpikiran bahwa ibu yang lahiran caesar akan membuat ASI-nya tidak selancar ibu dengan persalinan normal ya 😊.

Bagi para ibu yang akan melahirkan caesar, jangan takut ya! Tetap berpikir positif dan berdoa. Selain itu, beritahukanlah keadaan tubuh kita pada dokter yang memeriksa kita dengan jujur. Agar persiapan kita dalam melahirkan bisa maksimal. 

Bagi ibu hamil yang memiliki mata minus tinggi, jangan khawatir ya. Karena akupun sudah melihat video di Youtube yang mana ada seorang ibu bermata minus yang berhasil melahirkan normal. Semua kembali pada kondisi kita masing-masing. Yang penting, konsultasikanlah dengan dokter kepercayaan dan keluarga kita.

Operasi caesar pun ternyata enggak seram kok. Aku sebelum operasi merasa takut sekali. Tapi ternyata nggak seseram itu kok. Semoga diberikan kelancaran bagi ibu-ibu yang akan melahirkan. Semoga ibu dan bayi sehat dan selamat. Semangat!


Alhamdulillah Masya Allah


Semoga tulisanku ini bermanfaat ya!
Wassalamu'alaikum 🌻










Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer